Kementan ‘Curhat’ Imbas PSBB pada Pengiriman Logistik Pangan

Jakarta–Kementerian Pertanian (Kementan) menyoroti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berdampak pada pengiriman logistik bahan pangan.
Sebelumnya, beberapa daerah yang menerapkan PSBB melakukan jam operasional lalu lintas dan protokol kesehatan yang ketat sesuai standar nasional demi mencegah penyebaran wabah virus corona.
“Sekarang banyak PSBB dimana-mana, bukannya saya tidak suka, tapi ini logistik berpengaruh bagaimana cara kami membawa barang dari kemarin. Misalnya saya kirim telur butuh satu hari ke Aceh,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi dalam diskusi bersama Badan Restorasi Giambut, Senin (20/4).
Kendati demikian, ia mengklaim ketersediaan stok pangan mencukupi untuk tiga sampai empat bulan mendatang. Ia mengatakan perhitungan ketersediaan stok pangan dalam tiga sampai empat bulan ke depan diambil dari proyeksi panen masing-masing komoditas. Panen akan berlangsung pada April-Mei 2020.
“Jelas, yang kami tanam sekarang untuk tiga sampai empat bulan ke depan. Bulan ini dan bulan depan itu puncak panen beberapa komoditas,” ujar Agung
Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan, stok beras setidaknya sebanyak 2,84 juta ton pada pekan kedua April 2020. Jumlah stok terbanyak ada di sentra produksi, seperti Jawa Timur 621.055 ton, Jawa Barat 503.242 ton, Banten 366.536 ton, dan Sulawesi Selatan 159,880 ton pada periode yang sama.
Sementara stok di DKI Jakarta sebanyak 89.942 ton. Sedangkan daerah yang mengalami kekurangan pasokan adalah Bangka Belitung minus 2.214 ton dari batas normal stok, Maluku Utara minus 531 ton, Papua Barat minus 472,6 ton, dan Kepulauan Riau minus 378 ton.
Dari sisi harga, rata-rata harga beras di sentra produksi berkisar Rp9.900 sampai Rp12.100 per kilogram (kg) pada periode tersebut. Sementara di DKI Jakarta sekitar Rp13.400 per kg dan di daerah yang kekurangan stok berkisar Rp12 ribu sampai Rp13.250 per kg.
Lalu, untuk jagung, stok mencapai 944.116 ton di Indonesia. Stok terbanyak ada di Jawa Timur 280.977 ton, Jawa Tengah 175.615 ton, Sumatera Utara 136.776 ton, Jawa Barat 75.967 ton, dan Lampung 65.592 ton.
Sementara daerah yang kekurangan stok, yakni Nusa Tenggara Barat minus 7.041 ton dari kondisi stok normal, Bali minus 3.601 ton, DKI Jakarta minus 1.593 ton, Kalimantan Timur minus 481 ton, Kepulauan Riau minus 353 ton, Bangka Belitung minus 246 ton, Papua Barat minus 146 ton, dan Papua minus 139 ton.

Harga jagung dibanderol di kisaran Rp5.625 sampai Rp8 ribu per kg di daerah yang banyak stok. Sementara di daerah yang kekurangan stok mencapai Rp6.000 sampai Rp10.500 per kg.
Kemudian, untuk komoditas cabai merah besar sebagian besar daerah tengah mengalami kekurangan stok dengan jumlah total mencapai 14.702 ton untuk seluruh Indonesia. Misalnya, Banten mencapai minus 866 ton dari kondisi stok normal. Diikuti Nusa Tenggara Timur minus 412 ton, Kalimantan Barat minus 385 ton, dan lainnya.
Sedangkan daerah yang memiliki stok berlimpah adalah Jawa Barat mencapai 4.080 ton, Sumatera Utara 3.643 ton, Jawa Tengah 2.652 ton, dan Sumatera Barat 2.270 ton. Stok cabai merah besar di DKI Jakarta relatif cukup sekitar 618 ton.
Harga cabai merah besar dijual di kisaran Rp17.750 hingga Rp48.300 per kg di daerah yang berkecukupan stok. Sementara di daerah yang kekurangan stok sekitar Rp20.800 sampai Rp52.700 per kg.
Seperti halnya cabai merah besar, komoditas cabai rawit juga mayoritas minim di berbagai daerah dengan stok total 7.647 ton di dalam negeri. Hanya beberapa daerah yang punya stok mencukupi, misalnya Jawa Timur 5.472 ton, Nusa Tenggara Barat 3.447 ton, Aceh 918 ton, Jawa Tengah 903 ton, dan DKI Jakarta 571 ton.
Untuk daerah yang kekurangan stok, yaitu Banten minus 913 ton dari stok normal, Jawa Barat minus 909 ton, Sumatera Selatan minus 420 ton, dan Riau minus 378 ton. Cabai rawit di daerah-daerah tersebut dibanderol di kisaran Rp23.900 sampai Rp56.900 per kg, sementara di daerah yang berkecukupan sekitar Rp24.400 hingga Rp54.300 per kg.
Selanjutnya, stok komoditas bawang merah mencapai 17.402 ton secara nasional. Stok terbanyak ada di Jawa Tengah 11.413 ton, Nusa Tenggara Barat 5.395 ton, Jawa Timur 4.764 ton, dan Sulawesi Selatan 2.443 ton.
Daerah yang paling kekurangan stok adalah Sumatera Utara minus 1.406 ton dari stok normal, Banten 1.218 ton, dan lainnya Harga di daerah-daerah yang kekurangan berkisar Rp33.150 sampai Rp59.250 per kg, sedangkan di daerah yang berkecukupan dibanderol Rp26.900 sampai Rp46.800 per kg.
Terakhir, stok telur ayam mencapai 42.671 ton di seluruh Indonesia. Stok terbanyak ada di Jawa Timur 25.206 ton, Sumatera Utara 8.085 ton, Jawa Tengah 6.365 ton, dan lainnya.

Kekurangan stok terjadi di Jawa Barat minus 6.230 ton dari stok normal, Riau minus 2.533 ton, Nusa Tenggara Timur minus 2.063 ton, dan lainnya. Harga di daerah berkecukupan stok berkisar Rp14.150 hingga Rp24.300 per kg, sementara di daerah kekurangan Rp23.200 hingga Rp36.450 per kg.
Lihat juga: Pemerintah Kaji 3 Platform Digital Calon Mitra Kartu Prakerja
Selain menjamin stok, Agung mengatakan harga sejumlah komoditas juga relatif stabil. Hal ini dapat diupayakan karena Operasi Pasar (OP) yang digelar kementerian.
Dalam OP, gula pasir dijual dengan harga Rp12.500 per kilogram (kg), beras Rp8.500 per kg, dan telur ayam ras Rp23 ribu per kg.
Agung mengungkapkan kementerian tidak hanya melakukan pemenuhan stok pangan dari sisi produksi, namun turut memantau distribusi stok hingga ke pedagang pasar. Caranya, dengan melakukan OP dan sidak bila ada laporan terkait stok.
Tujuannya, untuk mengendalikan atau stabilisasi harga, aksesibilitas kebutuhan pokok, dan ketersediaan cukup, aman, dan murah. Di sisi lain, kementerian juga membantu petani dalam bidang produksi.

Sumber:m.cnnindonesia.com

Daftarkan Email anda dan dapatkan informasi dan promo menarik dari Prahu-Hub.