Tol Laut, Kemenhub Benahi Tata Kelola Pelabuhan dan Kapal

Pemudik bersiap menaiki KM Sabuk Nusantara 68 menuju Mentawai, di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Minggu (26/5/2019). Sejumlah BUMN di Sumatera Barat melalui program "BUMN Hadir Untuk Negeri" jelang Idul Fitri 1440 Hijriah, memberangkatkan gratis 1.100 pemudik dari Teluk Bayur ke Kepulauan Mentawai dan sebaliknya, selama empat kali keberangkatan menggunakan KM Sabuk Nusantara. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ama.

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui harus memperbaiki beberapa hal untuk meningkatkan kinerja program tol laut sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Wisnu Handoko mengatakan tol laut yang menjadi solusi untuk mengurangi disparitas harga di kawasan timur dan barat tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemenhub. Pasalnya, panjangnya alur rantai pasok serta keterlibatan aspek perdagangan pun menjadi salah satu kuncinya.

“Fokus yang dapat diperbaiki oleh Kemenhub yakni berkaitan dengan tata kelola bagian kapal dan pelabuhan. Arahan Presiden, kami harus perbaikan performa manajemen kapalnya, terutama ketepatan waktu, kemudian target pencapaian voyage-nya,” jelasnya, Kamis (12/3/2020).

Menurutnya, Presiden sudah meminta agar pelayaran tidak dilakukan dua pekan sekali, tetapi bisa hingga sepekan sekali. Artinya, frekuensi pelayaran ke daerah menjadi lebih sering yang dapat dipenuhi dengan penambahan kapal.

Namun, dia menegaskan jika perlu menambah kapal, Kemenhub ingin agar kebutuhan tersebut akurat. Dengan demikian, penambahan kapal juga turut disertai dengan jumlah okupansi barang pun meningkat.

Adapun dalam rencana kerja, lanjutnya, pada 2020 terdapat 26 kapal tol laut yang terdiri atas 14 unit kapal negara, 5 unit kapal milik PT Pelni, 5 unit kapal PT ASDP dan 2 unit Kapal Swasta.

“Kemudian aspek pelabuhan, paling tinggi itu Pelabuhan Saumlaki itu banyak, [pengiriman] di atas 700 ton lebih pada 2019. Kemudian ada Tidore, Raha, kemudian Dobo,” jelasnya.

Namun sepengetahuannya, pelabuhan-pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan kecil yang hanya bisa disandari dua kapal ukuran sedang yang digunakan untuk aktivitas tol laut. Rata-rata kapal tol laut berukuran 100 TEUs, hanya dapat bersandar dua kapal.

Selain itu, akses jalan menuju pelabuhan tersebut masih sangat sempit. Dia memperbandingan dengan Tanjung Priok yang mampu dilewati dua truk trailer, pelabuhan di daerah satu truk biasa saja sudah memenuhi jalan.

“Itu jadi pekerjaan rumah kami bagaimana ke depan pelabuhan dikembangkan supaya bisa menampung muatan. Ini kalau semakin lama makin tinggi kebutuhan orang di sana apalagi ditambah subsidinya,” urainya.

Pada 2019, jumlah titik pelabuhan yang disandari kapal tol laut sebanyak 76 pelabuhan. Pada 2020, Kemenhub mencatat akan ada sebanyak 99 titik pelabuhan yang disandarkan kapal tol laut.

Sumber : ekonomi.bisnis.com/read/20200313/98/1212812/tol-laut-k

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftarkan Email anda dan dapatkan informasi dan promo menarik dari Prahu-Hub.